Transparansi, Akuntabilitas, dan Keberlanjutan Organisasi tidak mungkin dibangun hanya dengan memperbaiki aspek pengelolaan keuangan organisasi belaka.

Pengalaman Penabulu menguatkan kapasitas pengelolaan keuangan organisasi nirlaba selama lebih dari satu dekade terakhir ini menegaskan hal itu. Yakni bahwa aspek pengelolaan lainnya perlu pula dikukuhkan, karena aspek-aspek itu merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pengelolaan organisasi yang sehat dan mampu berkelanjutan.

Aspek pengelolaan lainnya itu adalah aspek-aspek perencanaan, monitoring dan evaluasi, pengelolaan sumber daya manusia, pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi, dan penggalangan sumber daya.

Organisasi masyarakat sipil (OMS) berdiri, bergerak, dan tumbuh sesuai visi dan misinya, berdasar sumber daya organisasi yang dimiliki. Sumber daya organisasi itu ada macam-macam, dan OMS memiliki beberapa pilar sumber daya yang menentukan keluasan serta kedalaman ruang geraknya. Namun, pilar sumber daya OMS yang paling tradisional adalah dukungan pendanaan dan sumber daya manusia.

Sementara itu, kini pola dan skema ketersediaan dukungan pendanaan bagi OMS di Indonesia mengalami perubahan signifikan. Peta dukungan global dalam waktu singkat telah begitu bergeser, sedemikian rupa sehingga sekarang OMS tidak bisa lagi sepenuhnya bersandar kepada dukungan lembaga donor. Pada titik ini, sumber daya OMS tidak bisa direduksi hanya berupa dukungan dana. Ada sumberdaya yang jauh lebih berharga dibanding itu, yakni partisipasi dan keterlibatan publik: kemitraan, jejaring, aliansi ataupun sindikasi telah menjadi tuntutan strategi yang sangat penting.

Karenanya, OMS kini juga harus menempatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu pilar baru organisasi—demi memperkuat jangkauan dan aksesnya terhadap komunitas dan masyarakat luas. Juga sebagai alat komunikasi dan negoisasi yang efektif dengan sektor pemerintah dan bisnis. Sejalan dengan hal itu, pada aspek data dan informasi, kini OMS juga dituntut untuk menempatkan pengelolaan pengetahuan sebagai salah satu jaminan keberlanjutan organisasi.

Maka, memperkuat aspek pengelolaan keuangan saja tidak cukup untuk mengupayakan keberlanjutan organisasi dan mendorong transparansi serta akuntabilitas organisasi. Penguatan aspek-aspek pengelolaan lainnya juga sangat diperlukan.