Pelatihan Pengembangan BUMDes – Yogyakarta, 24-28 Juli 2017

Yogyakarta (29/07) – “Badan usaha yang didirikan oleh desa tidak boleh menggeser budaya yang ada,” demikian ditegaskan Th. Eko Setyowati kepada 14 peserta Pelatihan Pengembangan BUM Desa yang digelar Penabulu Alliance, kolaborasi antara Desa Lestari dan Learn!. Keberadaan BUM Desa menjadi salah satu instrumen tolok ukur kemandirian desa.

Pelatihan Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) terselenggara pada 24 – 28 Juli 2017 di Yogyakarta dan diikuti oleh 14 orang yang berasal dari Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Selama lima hari, pelatihan berlangsung dengan metode belajar kelas dan diskusi, serta kunjungan lapangan ke BUM Desa Tunas Mandiri yang berada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Hadir Ahmad Rofik dari Pokja Masyarakat Sipil Kementerian Desa PDTT, Th. Eko Setyowati selaku pendamping dan konsultan pemberdaya kelompok usaha, serta trainer keuangan dari Kementerian Keuangan, Roy Martfianto sebagai narasumber yang berbagi pengalaman dan pengetahuan selama pelatihan.

Dalam proses pembangunan, selama ini sebagian besar desa memiliki ketergantungan dengan pihak luar. Namun dorongan mendirikan BUM Desa yang secara masif pada setahun terakhir ini bertujuan agar desa lebih mandiri dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Alokasi APB Desa untuk modal penyertaan di BUM Desa mengurangi penggunaan yang sekali habis, karena perputaran anggaran dapat menambah Pendapatan Asli Desa. Selain berorientasi pada keuntungan, BUM Desa juga berorientasi pada kemanfaatan bagi masyarakat yang lebih banyak. BUM Desa diharapkan menjadi badan usaha yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung usaha-usaha kecil di masyarakat, bukan untuk mematikan usaha-usaha yang sudah ada di masyarakat.

Hampir semua desa di Mahakam Ulu, sudah menyiapkan anggaran untuk pendirian BUM Desa tetapi terkendala dengan usaha yang akan dipilih. “Usaha dapat di dirikan melalui potensi yang ada di diesa, dan perlu diingat dalam menganalisa usaha adalah tidak boleh menggeser budaya yang sudah ada, dan desa harus mengetahui peluang, kekuatan, kelemahan serta tantangan”, ujar Th. Eko Setyowati dalam sesi rencana dan analisis usaha.

Mahakam Ulu, salah satu kabupaten di Kalimantan yang masih memiliki kekayaan alam yang sangat kaya. Lahan perhutanan dan pertanian masih sangat luas dan murni. Untuk menganalisa usaha dari potensi sumber daya alamnya diharapkan BUM Desa tidak menjadi badan usaha yang akan mengeksploitasi lingkungan, termasuk mematuhi regulasi atau hukum yang ada.

“Sebagai pertanggungjawaban antara BUM Desa ke pemerintah desa dan masyarakat, maka perlu adanya alat komunikasi bernama laporan keuangan, yang transparan dan akuntabel,” tegas Roy Martfianto.

Laporan keuangan digunakan untuk melihat posisi keuangan dan kegiatan usaha yang dijalankan. Kekayaan BUM Desa merupakan kekayaan yang dipisahkan dari desa, tetapi secara kepemilikan BUM Desa adalah milik desa, sehingga semua keputusan harus dimusyawarahkan terlebih dahulu.  Alokasi modal penyertaan dari APB Desa dengan kata lain adalah penggunaan dana publik yang penggunaannya harus sepengetahuan masyarakat, bermanfaat untuk kehidupan masyarakat desa,  dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Selain metode belajar di kelas, peserta pelatihan melakukan studi lapangan ke Desa Nglanggeran. Sugeng Handoko, salah satu pengelola BUM Desa Tunas Mandiri, berbagi pengalaman mengenai proses pemetaan potensi desa, integrasi unit-unit usaha, serta kondisi BUM Desa saat ini yang sudah mampu menjadi lapangan kerja bagi kaum muda.

“Dalam mengelola usaha yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu adalah peningkatan kapasitas dan karakter masyarakat. Di sini (red. Nglanggeran), usaha masyarakat sudah berkembang terlebih dahulu baru kemudian membentuk BUM Desa. Masyarakat memiliki harapan yang besar kepada BUM Desa dan memikirkan keberlanjutan untuk generasi penerus serta lingkungan, maka pengelola wisata bersedia menjadi salah satu unit usaha di BUM Desa Nglanggeran, ” terang Sugeng.

Dalam kunjungan ke Desa Nglanggeran, peserta tidak hanya mendengarkan paparan dari para pelaku dan pengelola BUM Desa. Para peserta dapat melihat langsung proses produksi usaha susu kambing ettawa dan pengolahan kakao menjadi aneka rupa produksi cokelat. Kedua unit usaha dari BUM Desa Tunas Mandiri secara khusus mendapat perhatian peserta karena potensi sumber daya di Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu didominasi oleh ternak sapi dan perkebunan kakao.

Selama lima hari peserta, narasumber, dan fasilitator melakukan diskusi secara terbuka. Harapannya ketika para peserta kembali ke desa masing-masing, mereka mampu menularkan pengalaman kepada perangkat desa dan masyarakat, serta memfasilitasi berdirinya BUM Desa di desanya. “Peran desa bukan hanya sekedar memberi dana, tetapi desa juga harus mengetahui dan terlibat langsung. BUM Desa memang tidak wajib tetapi dibutuhkan oleh desa. Maka BUM Desa harus dijalankan dengan niat tulus, pelibatan masyarakat, dan adanya evaluasi,” ujar Sri Widyaningsih, salah satu peserta yang optimis dengan berdirinya BUM Desa di Mahakam Ulu. (IN)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *