• Jalan Palapa 2 No. 4, Pasar Minggu, Jakarta
  • (+62) 21 22783128

Detail


Mobilisasi Sumber Daya OMS: Cara Menyusun Proposal Berbasis Teori Perubahan

Training Descriptions

LATAR BELAKANG

Arah dan ukuran keberhasilan pembangunan kini akan sangat ditentukan dengan seberapa besar irisan sinergi dapat dilakukan oleh tiga pihak pelaku pembangunan. Pelaku pembangunan yaitu sisi Pemerintah, Bisnis dan Organisasi Masyarakat Sipil.  Selayaknya sebagai sebuah organisasi yang professional Organisasi Masyarakat Sipil juga harus mempunyai perencanaan atas program-program yang akan dijalankan.

Dalam rangka peningkatan mutu pelaksanaan program dan pengembangan di lingkup internal managemen, tuntutan kualitas dan kuantitas mutu program merupakan keharusan karena penyelenggaraan pelaksanaan program dan pengembangan yang baik merupakan bagian dari akuntabilitas, yaitu bisa dipertanggungjawabkan pencapaiannya sesuai tujuan perubahan yg diharapkan.

Metode perencanaan yang digunakan di Indonesia cukup beragam. Pada tahun 1970an OMS banyak menggunakan metode perencanaan yang disebut Management By Objective (MBO). Metode ini banyak digunakan di USA. Selain OMS, MBO banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Pada tahun 1978 USA melahirkan metode baru yaitu Logical Framework Analysis (LFA) yang bahkan sampai sekarang masih banyak digunakan oleh OMS. Jerman juga memiliki metode perencanaan antara lain Ziel Orientierte Projekt Planung (ZOPP) yang kemudian berkembang yang dikenal dengan Project Cycle Management (PCM). Selain USA dan Jerman, Canada juga memiliki metode perencanaan yang dikenal dengan Result Based Management (RBM). RBM mulai digunakan sejak tahun 1995 dan sampai saat ini juga masih banyak Oms yang menggunakan metode RBM. Topping Up Scheme merupakan perpaduan pemikiran dari USA dan Canada.

Perkembangan metode perencanaan bersifat simultan. Dalam penggunaan metode perencanaan diibaratkan seperti "mazhab" dalam sastra atau perkembangan pemikiran. Beberapa OMS akan menggunakan metode perencanaan yang berbeda-beda dipengaruhi oleh asal lembaga donor. Akan tetapi sudah banyak juga OMS yang menggunakan metode perencanaan atas “keyakinan” sendiri dengan menyesuaikan masing-masing hasil yang diharapkan.

Selama beberapa dekade terakhir telah terjadi perdebatan berkelanjutan antar akademisi tentang metode pendekatan terbaik untuk menggambarkan bagaimana program mengarah pada hasil. Salah satu pendekatannya adalah menggunakan Kerangka Logis (juga disebut Logical Framework), yang sekarang diharuskan oleh sebagian besar donor. Sedangkan pendekatan lain yang semakin populer pada masa kini adalah pendekatan berbasis Teori Perubahan (Theory of Change).

Teori Perubahan bukanlah hal baru dalam manajemen sebuah program. Teori ini melihat perubahan sosial tidak linear, tidak bisa diukur secara rigid seperti halnya ketika menggunakan pendekatan Logical Framework. Ada enam komponen yang penting dalam Teori Perubahan adalah (a) persoalan/masalah pada kondisi awal, (b) perubahan/kondisi yang diharapkan, (c) pemetaan aktor, (d) strategi kerja, (e) pendekatan, dan (f) prasyarat kunci terjadinya perubahan. Berangkat dari masalah/persoalan, Teori Perubahan lebih menitikberatkan pada capaian outcome ketimbang aktifitas yang dilakukan. Pada satu sisi, fleksibilitas aktivitas mempermudah pelaksanaan program di lapangan, tapi pada sisi lain perlu komunikasi yang lebih intens dan kesamaan visi antara pihak-pihak luar (baik stake holder maupun lembaga donor), manajemen lembaga dan tim pelaksana agar bisa saling memahami bagaimana program yang dirancangkan akan terlaksana di lapangan.

Manfaat menyusun perencanaan program berbasis Teori Perubahan adalah dapat menjelaskan proses perubahan sosial yang diidamkan dengan lebih simpel, jelas dan sistematis kepada berbagai pihak. Penjelasan tersebut memudahkan untuk mendidik atau mempengaruhi pihak lain untuk mendukung sebuah perubahan. Teori Perubahan menjadi sebuah panduan tindakan dalam mencapai keadaan yang diharapkan. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mensinergikan beragam program yang dijalankan. Adanya Teori Perubahan membuat pelaksanaan program lebih dinamis karena respon dari lingkungan dapat menjadi umpan balik untuk melakukan revisi atau pengembangan sebuah teori perubahan.

Di tengah banyaknya OMS yang tumbuh di Indonesia dan mulai berkurangnya donor yang memberikan dukungan, tingkat persaingan antar OMS untuk mendapatkan dukungan dari lembaga donor pun semakin tinggi, belum banyak OMS yang mampu menyusun perencanaan program yang dengan jelas menggambarkan bagaimana sebuah komunitas akan mewujudkan suatu sasaran jangka panjang dengan berbagai faktor dan aktor berinteraksi dalam mencapai suatu hasil yang diharapkan. Perencanaan Program berbasis Teori Perubahan akan mampu menyajikan sebuah rencana pelaksanaan program yang baik dan akuntabel.

 

TUJUAN

Tujuan pelaksanaan Pelatihan Perencanaan Program Berbasis Teori Perubahan adalah memberikan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan Organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia, antara lain:

  1. Peningkatan pemahaman tentang model perencanaan program untuk Organisasi Masyarakat Sipil
  2. Peningkatan pemahaman dan keterampilan para Perancang / Manajer / Staf Pengelola Program OMS dalam menyusun rencana program berbasis Teori Perubahan (Theory of Change).
  3. Memperkuat kapasitas OMS dalam menyusun perencanaan program-program organisasi berbasis Teori Perubahan (Theory of Change).

 

HASIL YANG DIHARAPKAN

Hasil yang diharapkan dengan adanya Pelatihan Perencanaan Program Berbasis Teori Perubahan, antara lain:

  1. Perancang / Manajer / Staf Pengelola Program memahami tentang model perencanaan program yang bisa diterapkan di organisasi masyarakat sipil
  2. Perancang / Manajer / Staf Pengelola Program OMS memahami konsep Teori Perubahan (Theory of Change).
  3. Perancang / Manajer / Staf Pengelola Program OMS memahami cara menyusun proposal berbasis Teori Perubahan (Theory of Change) berdasarkan kebutuhan dan kemampuan organisasi.
  4. OMS mampu menyusun perencanaan program-program organisasi berbasis Teori Perubahan (Theory of Change).

 

METODE

Pelatihan Perencanaan Program Berbasis Teori Perubahan dilaksanakan selama 3 hari, diselenggarakan menggunakan model belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta akan menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama pada pelatihan ini.

Materi akan disampaikan oleh trainer dan co-trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah pelatihan.

Materi yang akan disampaikan dan menjadi bahan diskusi dalam pelaksanaan Pelatihan Penyusunan Proposal Berbasis Teori Perubahan, antara lain:

  1. Jenis dan Karakteristik Model Perencanaan
  2. Logical Framework Analysis
  3. Perencanaan Berbasis Hasil (Result-based Planning/Managemen)
  4. Teori Perubahan (Theory of Change)

 

PESERTA

Peserta yang diharapkan untuk mengikuti Pelatihan Perencanaan Program Berbasis Teori Perubahan adalah para Perancang / Manajer / Staf Pengelola Program OMS yang bertanggungjawab pada penyusunan perencanaan program organisasi.

Training Fee

Rp. 3.500.000
  • TypePelatihan Publik
  • StatusOpen
  • Registration Duedate7 October 2019
  • Payment Duedate7 October 2019
  • Min Quota7
  • Max Quota20

When

  • Date: 14 – 16 October 2019
  • Time: 09.00 - 17.00 WIB

Where

  • Location: DI Yogyakarta
  • Venue: Tba
  • Map:

Organizer

Trainer

  • To be affirmative

Contact Person


SIGN IN

Forgot Password

479 queries, 0.867 seconds.