• Jalan Palapa 2 No. 4, Pasar Minggu, Jakarta
  • (+62) 21 22783128

Detail


Pengembangan Usaha Madu Kelulut: Teknik Budidaya Mandiri

Training Descriptions

Latar Belakang

Dalam sebuah dokumen yang diterbitkan oleh FAO disebutkan bahwa memelihara lebah merupakan salah satu aktivitas ekonomi terbaik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Ternak lebah bertujuan untuk mendapatkan produk lebah yang dapat dipanen, meliputi madu, roti lebah (beepollen), lilin lebah (beeswax), propolis, dan royal jelly. Berbagai macam produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, sehingga bisa menjadi tambahan pemasukan bagi perekonomian rumah tangga. Di sisi lain, memelihara lebah juga bertujuan untuk melestarikan keberadaan lebah itu sendiri. Seperti telah banyak disampaikan oleh para pakar, lebah merupakan kelompok serangga terbang yang memiliki peran penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman di bumi. Itu artinya lebah turut membantu menjaga kelestarian fungsi kawasan hutan.

Potensi lebah di Indonesia yang sedemikian besar kiranya masih kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan penurunan minat masyarakat sekitar hutan untuk memelihara lebah. Keahlian masyarakat dalam merawat dan menangani lebah, terutama jenis Apis cerana juga semakin hilang, dan tidak tersampaikan dengan baik kepada generasi muda. Di sisi lain, peluang lebah tanpa sengat (Trigona spp) juga sangat menjanjikan. Lebah tanpa sengat merupakan lebah berukuran kecil, termasuk suku Apidae. Kelompok lebah ini dikenal dengan berbagai nama lokal seperti klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), kelulut (Melayu), gala-gala (Minang), dll. Pemeliharaan lebah tanpa sengat biasa disebut meliponikultur. Istilah ini diadopsi dari nama kelompok lebah tanpa sengat dalam tribus Meliponini.

Lebah tanpa sengat hidup di kawasan tropis sampai subtropis. Di dunia ada sekitar 500 jenis lebah tak bersengat dari kelompok ini. Benua Amerika menyumbangkan sebanyak 300 jenis, Afrika sebanyak 50 jenis. Asia 60 jenis  dan Australia 10 jenis (Breadbear, 2009). Menurut catatan Rasmusen (2008), Indonesia setidaknya memiliki 35 jenis lebah tanpa sengat. Jumlah tersebut terus diperbaharui dan saat ini dipercaya hampir mencapai 50 jenis. Setiap kawasan memiliki jenis-jenis khas masing-masing. Banyak jenis kelulut telah berhasil dibudidayakan. Setiap jenis memiliki cara hidup yang berbeda-beda, sehingga teknik dan pengelolaan budidayanya juga berbeda-beda pula. Dengan kekayaan jenis kelulut yang demikian besar, Indonesia menjadi salah satu negara paling berpotensi dalam pengembangan meliponikultur. Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dan diseminasi informasi terkait potensi lebah tanpa sengat menjadi langkah strategis.

Saat ini Indonesia masih mengalami defisit pasokan madu. Suplai madu utama dipenuhi dari pemanenan lebah hutan Apis dorsata, budidaya lebah impor Apis mellifera, dan setengah sisanya dipenuhi dari impor. Potensi budidaya lebah tanpa sengat atau kelulut masih belum dikelola dengan baik. Pengembangan budidaya lebah tanpa sengat atau meliponikultur memiliki kelebihan antara lain:

  1. Lebah yang digunakan adalah lebah native atau sesuai dengan sebaran alaminya, sehingga jauh lebih adaptif dibandingkan dengan jenis lebah impor. Lebah native juga tidak akan memberikan dampak negatif ekosistem.
  2. Madu yang dihasilkan merupakan madu yang memiliki keunggulan dari sisi kandungan nutrisi dan kandungan zat-zat bermanfaat seperti antioksidan.
  3. Meskipun kapasitas produksi madunya relatif jauh lebih kecil dari madu Apis, namun harganya jauh lebih mahal sehingga secara ekonomi menguntungkan.
  4. Lebah tanpa sengat lebih mudah dikelola karena tidak menyengat. Pemeliharaannya bisa dilakukan siapa saja.
  5. Lebah tanpa sengat memberikan manfaat ekologis berupa jasa penyerbukan bebungaan. Karena ukuran tubuhnya yang kecil maka lebah ini mampu masuk ke dalam bunga-bunga kecil dan membantu proses penyerbukan.

 

Tujuan

  1. Meningkatkan pengetahuan peserta mengenai lebah kelulut
  2. Meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam budidaya lebah kelulut

 

Sasaran

  1. Masyarakat umum
  2. Pengurus Koperasi atau Bumdes
  3. Aktivis lingkungan dan community development
  4. Personil perusahaan bidang Humas dan CSR

Training Fee

Rp. 2.500.000
  • TypePelatihan Publik
  • StatusOpen
  • Registration Duedate25 March 2019
  • Payment Duedate25 March 2019
  • Min Quota7
  • Max Quota20

When

  • Date: 1 – 2 April 2019
  • Time: 09.00 - 17.00 WIB

Where

  • Location: DI Yogyakarta
  • Venue: Tba
  • Map:

Organizer

Trainer

  • To be affirmative

Contact Person


SIGN IN

Forgot Password

323 queries, 0.827 seconds.