• Jalan Palapa 2 No. 4, Pasar Minggu, Jakarta
  • (+62) 21 22783128

Detail


Pengembangan Usaha Madu Kelulut: Pengembangan Usaha dan Jejaring Bisnis

Training Descriptions

Latar Belakang

Madu merupakan salah satu produk hasil hutan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat dan memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai suplemen kesehatan, kecantikan, anti toksin, obat luka, dan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan minuman. Dengan luas hutan yang mencapai 136,88 juta ha (Kementerian Kehutanan, 2010), potensi pengembangan madu di Indonesia cukup besar. Sumber daya hutan itu dapat dikembangkan sebagai ekosistem dan peternakan lebah madu.

Madu merupakan produk yang mengandalkan sumber daya alam untuk produksinya. Dengan potensi sumber daya hutan yang cukup luas, Indonesia bisa dikatakan memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dibandingkan negara lain. Keunggulan komparatif tersebut merupakan modal dasar yang perlu dikembangkan melalui pembangunan ekonomi sehingga dapat menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage) yang bisa menjadi pendorong bagi pertumbuhan perekonomian nasional secara umum.

Data produksi madu Indonesia masih belum bisa diperoleh secara pasti karena banyak produsen terutama peternak lebah kecil dan produsen madu alam yang belum mencatat hasil produksinya. Untuk kebutuhan total madu dalam negeri dapat didekati dengan membandingkan nilai import tahun 2010 dimana jumlah import melonjak dari rata-rata 2000-2300 ton per tahun menjadi 15 ribu ton karena paceklik produksi madu akibat faktor iklim. Dari komparasi data Kementrian Perdagangan tersebut dapat diestimasi kebutuhan rata-rata madu dalam negeri sekitar 16 ribu ton per tahun dengan tingkat konsumsi sekitar 60 gram/per kapita/tahun. Angka konsumsi ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan rata-rata konsumsi negara-negara lain seperti Jerman, Jepang, Inggris dan Perancis mencapai 700-1500 gr per kapita/tahun sehingga masih sangat memungkinkan untuk mendorong peningkatan konsumsi madu dalam negeri. Dengan asumsi pengurangan nilai import sampai tingkat 0 maka terbuka peluang pasar untuk tambahan suplai madu sebesar 2000-3000 ton/tahun. Jika pertumbuhan ekonomi dijadikan landasan peningkatan konsumsi madu maka setidaknya setiap tahun permintaan akan naik 5-7% yang artinya dengan baseline kebutuhan 15 ribu ton akan memunculkan pertumbuhan permintaan sebesar 750 – 1000 ton per tahun.

Jika angka ini diproyeksikan pada produksi madu lebah kelulut dimana diasumsikan akan mengambil porsi 10% dari total pertumbuhan permintaan produk madu maka itu berarti 1500 ton per tahun. Jika dianggap unit usaha budidaya lebah kelulut berupa unit usaha rumah tangga dengan produksi rata-rata 50 kg per tahun maka ada potensi peningkatan ekonomi rumah tangga bagi 30 ribu keluarga, dengan potensi pendapatan 450 milyar rupiah. Nilai tersebut baru valuasi produksi madu, belum  memperhitungkan potensi pasar bagi produk pollen dan propolis yang juga memiliki nilai jual tinggi, dan tentunya potensi pengembangan eduwisata.

Pelatihan pengembangan usaha dan jaringan bisnis merupakan kelanjutan dari pelatihan Teknik Budidaya Mandiri, dimana setelah peserta memiliki kemampuan teknis untuk melakukan budidaya kelulut akan dibekali lebih lanjut dengan kemampuan pengembangan usaha melalui penyusunan rencana usaha, manajemen usaha, dan pemasaran produk dan jasa. Diharapkan kemampuan teknis budidaya tersebut akan dikembangkan melalui skema usaha baik personal maupun kolektif untuk menjamin munculnya nilai tambah dan juga keberlajutannya. Dasar-dasar pengelolaan usaha akan diberikan kepada peserta sehingga mereka diharapkan mampu menyusun rencana usaha yang terukur dari mulai manajemen produksi, pemasaran, dan kelola administrasi keuangan.

 

Tujuan :

  1. Meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam menyusun rencana usaha berbasis lebah kelulut
  2. Menambah kemampuan peserta dalam manajemen keuangan usaha
  3. Meningkatkan kemampuan peserta dalam meningkatkan akses pemasaran

 

Sasaran :

  1. Petani pembudidaya lebah kelulut
  2. Pengurus Koperasi atau Bumdes
  3. Pegawai pemerintah
  4. Perangkat desa
  5. Aktivis lingkungan dan pembangunan desa
  6. Personil perusahaan bidang Humas dan CSR
  7. Masyarakat umum

Training Fee

Rp. 2.500.000
  • TypePelatihan Publik
  • StatusOpen
  • Registration Duedate3 July 2019
  • Payment Duedate3 July 2019
  • Min Quota7
  • Max Quota20

When

  • Date: 10 – 11 July 2019
  • Time: 09.00 - 17.00 WIB

Where

  • Location: DI Yogyakarta
  • Venue: Tba
  • Map:

Organizer

Trainer

  • To be affirmative

Contact Person


SIGN IN

Forgot Password