• Jalan Palapa 2 No. 4, Pasar Minggu, Jakarta
  • (+62) 21 22783128

Detail


Pengembangan Pertanian Organik Melalui Penerapan Internal Control System (ICS)

Training Descriptions

Latar Belakang

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian menjadikan Pertanian Organik menarik perhatian baik di tingkat produsen maupun konsumen. Masyarakat konsumen semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Gaya hidup sehat demikian juga telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan.

 

Peluang Pertanian Organik di Indonesia:

Indonesia memiliki potensi luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik. Indonesia pada 2016 luas lahan sawah mencapai 8,19 juta ha atau meningkat 1,16% dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah tersebut terdiri 4,78 juta ha merupakan sawah  irigasi dan 3,4 juta ha sawah non irigasi. Namun masih sedikit lahan yang melakukan penanaman secara organik, terhitung baru sekitar 0.14% lahan sawah dan kebun di Indonesia yang menerapkan penanaman secara organik. Hal ini menjadi peluang pengembangan pertanian organik yang lebih luas lagi kedepannya bahkan di bidang peternakan dan perikanan. Mengingat hasil survei pada 2014 menyatakan Indonesia termasuk salah satu negara yang masuk dalam the Ten Countries with the Largest Organic Area 2012 di kawasan Asia.

Indonesia juga memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain: (i) masih banyak sumber daya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, (ii) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

 

Tantangan Budidaya Pertanian Organik:

Walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai kebijakan dalam pengembangan pertanian organik seperti ‘Go Organic 2010’, namun perkembangan pertanian organik di Indonesia masih sangat lambat.  Keadaan ini disebabkan oleh berbagai kendala antara lain

  • Kendala Akses Pemasaran (potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas)
  • Rendahnya minat konsumen dan pemahaman terhadap produk organik
  • Proses sertifikasi yang dianggap berat oleh petani kecil, organisasi petani serta kemitraan petani dengan pengusaha
  • Belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik
  • Perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan kimia

Seiring berjalannya waktu dan terus tumbuhnya tren konsumsi organik, memicu minat para produsen untuk melakukan budidaya pertanian organik. Hal ini diharapkan akan berdampak positif terhadap pengembangan petanian organik kedepanya.

Meningkatnya tren organik, juga harus diimbangi dengan peningkatan penilaian kualitas keorganikan produk didasarkan pada proses budidayanya. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan pertanian organik adalah kontinuitas produksi dan mutu, serta kepercayaan konsumen akan keorganikan produk-produk pertanian. Untuk menjamin apakah produk tersebut benar-benar organik maka diperlukan adanya pengawasan terhadap proses budidaya produk organik tersebut, maka diperlukan suatu sistem pengawasan mutu yang mampu memberikan jaminan keorganikan produk terhadap konsumen yaitu Internal Control System (ICS). Dimana prinsip dasar dari pengembangan ICS adalah untuk memfasilitasi kelompok petani kecil menghasilkan produk organik berkualitas sesuai standar dan akhirnya bisa mendapatkan penjaminan (sertifikasi) baik dari lembaga sertifikasi pihak ketiga maupun sistim sertifikasi komunitas.

Maka dari itu, pelatihan Pertanian Organik dan ICS ini dirancang untuk memberikan bekal yang lengkap kepada calon dan pengelola usaha tani dalam mendukung dinamisnya proses mulai dari aspek budidaya-pascapanen organik serta standar dan norma budidaya organik. Selain itu juga mendukung dinamisnya fungsi kelembagaan usaha tani dalam menjamin kualitas produk.

 

Tujuan Pelatihan

  1. Meningkatkan pemahaman tentang standarisasi budidaya organik yang tepat guna, efesien dan ramah lingkungan sesuai keinginan pasar
  2. Meningkatkan keterampilan pengelolaan usaha tani yang memiliki nilai perbaikan lingkungan, ekonomis, sosial dan kesehatan.
  3. Meningkatkan pemahaman calon, petani atau pelaku usaha tani terkait dengan sistem penjaminan mutu produk organik yang dihasilkan dan perannya dalam menjaga maupun meningkatkan kepercayan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.

 

Hasil yang diharapkan

Kegiatan ini dilakukan dengan maksud dan harapan untuk menumbuhkan minat dan meningkatkan pemahaman serta keterampilan peserta khususnya petani atau pengelola usaha tani dalam implementasi budidaya organik. Peserta dapat memahami indikator keorganikan produk pertanian yang terdiri dari informasi mengenai proses atau metode produksi yang diperkenankan dalam budidaya pertanian organik dan hal-hal yang terkait dengan perinsip-perinsip dari pertanian organik itu sendiri. Standar pertanian organik berisi hal-hal yang diperkenankan dan hal-hal yang tidak diperkenankan dalam pengolahan pertanian organik.

Peserta juga mengetahui dengan jelas bagaimana sistem organik mulai dari sistem produksi - pemasaran produk dikelola dengan baik sesuai standar organik yang diacu yaitu disesuaikan dengan pasar produk organiknya. Pemahaman sistem penjaminan mutu produk organik yang dihasilkan petani dan perannya dalam pengawasan produk organik, memiliki standar acuan dalam pencapaian kualitas yang diharapkan, serta maupun meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.

 

Metode Pelatihan

Pelatihan akan diselenggarakan selama 4 hari; 3 hari penyampaian teori dan praktek, 1 hari kunjungan lapangan. Metodologi yang digunakan dalam menghantarkan tahapan tersebut adalah paduan dari model paparan, diskusi kelompok/pleno, studi kasus tematik, presentasi-klarifikasi-konklusi, dan simulasi. Pelatihan akan dipandu oleh Fasilitator yang dalam menjalankan fungsinya akan memaksimalkan prinsip belajar orang dewasa (POD) selain fasilitator juga dipadukan dengan pengalaman lapangan oleh petani serta praktek untuk peberapan kelembagaan ICS di lapangan, di mana semua orang dan pihak yang terlibat adalah teman belajar yang efektif bagi yang lain.

 

Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan diharapkan mengetahui/memahami dari informasi di bawah ini (tidak wajib mengetahui semua informasi):

  1. Peserta memahami teknik budidaya pertanian dasar, sesuai dengan sumberdaya lokal yang dimiliki
  2. Khusus usaha tani, diwajibkan mengetahui informasi dasar mengenai kondisi manajemen usaha tani yang telah terbentuk, seperti (struktur pengelola usaha, komoditas usaha, serta produksi dan pemasaran produk yang telah dijalankan).
  3. Selain kelompok usaha tani, pelatihan ini juga menyasar kepada SKPD terkait program budidaya pertanian organi, perusahan yang berfokus pada budidaya organik ataupun NGO yang akan setup program/pendampingan orgaik dan ICS.

Peserta juga mempertimbangkan keterwakilan dari kelompok perempuan dan kelompok muda. Khusus usaha tani diharapkan untuk mengikuti sebagai Tim (minimal terdiri dari 2-3 orang) yang mencakup fungsi manajemen usaha.

Training Fee

Rp. 5.500.000
  • TypePelatihan Publik
  • StatusOpen
  • Registration Duedate28 October 2019
  • Payment Duedate28 October 2019
  • Min Quota7
  • Max Quota20

When

  • Date: 4 – 8 November 2019
  • Time: 09.00 - 17.00 WIB

Where

  • Location: DI Yogyakarta
  • Venue: Tba
  • Map:

Organizer

Trainer

  • To be affirmative

Contact Person


SIGN IN

Forgot Password